BILINGUAL antara Madura-Indonesia

Selamat siang para sahabat blogger,

Setelah beberapa hari berpikir panjang, memeras otak dan juga dibentus bentusno ke tembok. Akhirnya otak saya encer juga, sehingga akhirnya bisa mengikuti hajatannya mas Elfarizi yang temanya sangat sulit menurut saya.

Gimana tidak susah, lhawong saya tidak ahli dalam buat membuat cerita fiksi macam cerpen. Opsi ketiga mau membuat kado yang asyik, keren, dan juga anti biasa. Lagi lagi gagal gara gara nggak nemu image yang siip untuk dibuat kartu ucapan. Selain itu kalo saya ngirim kado berupa kartu ucapan, nanti malah saya dikira ada hubungan dekat sama mas EL. Karena takut digosipno, jadi saya urungkan niat untuk kirim kartu ucapan.

Dan akhirnya saya milih opsi yang kedua, opsi yang sederhana dan juga gampang gampang susah untuk dibuat. Karena saya seseorang yang suka bercerita (baca : cerewet), jadi saya milih yang opsi kedua, kebetulan ada sedikit cerita yang megeli dari salah satu teman saya dari yang sekarang bekerja di Kapal Api Jember. Langsung aja wes, ini ceritanya.

Dowand Axe Pink. Bila mendengar nama itu, kata itu, pasti Anda akan berpikir bahwa itu adalah kata yang aneh, kata yang nggak pas, dan juga nggak sesuai dengan kaidah bahasa yang ada di Indonesia. 

Saya mengenal baik kawan saya itu, dia anak yang gokil, lucu abis, dan nggaplek’ine gak ketulungan. Sudah punya istri tapi masih bergaya sok perjaka. Sudah punya anak tapi gayanya masih kayak anak muda usia 17 tahun. Tetapi di balik kekonyolannya itu, dia memiliki satu kelebihan. Kelebihannya adalah dia sanggup menggabungkan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Madura dengan cepat atau sering kita tahu dengan sebutan BILINGUAL.

Dengan kelebihannya tersebut dia sering membuat saya dan teman teman tertawa terbahak bahak. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut?

“Dek remah cong, pertandingan antara Manchester United lawan Tottenham kemarin. Abuh mak MU iki, pating pet crepet, tak bise maen rah, tek dung bae wes cong”

Kira kira bagaimana ekspresi Anda ketika dia tiba tiba datang dan menghampiri anda dengan tiba tiba nyolok kalimat yang seperti itu. Tentu saja saya dan teman teman yang nyangkruk bengong nggak ketulungan tadi pagi. Karena apa yang dia ucapkan merupakan perpaduan dua bahasa yang cukup sulit untuk dimengerti.

Apabila ditranslate, artinya kurang lebih seperti ini, ” Bagaimana temen temen, pertandingan antara MU dan Tottenham. Kenapa ya MU itu, kok hancur mainnya, tidak bisa main itu, tidur saja sudah pemain MU”.

Saya memang terkadang sampai pusing kalo ngomong sama dia. Apalagi pas ngomong bilingual Madura Indonesia dengan logat Madura, bukan logat Indonesia. Hal ini benar benar membuat saya yang nggak mudeng bahasa Indonesia jadi kesulitan untuk ngomong sama dia.Bahkan kadang kadang dia juga suka nyadur tiga bahasa sekaligus, bahasa Betawi, bahasa Madura dan bahasa Indonesia seperti di bawah ini.

“Gue tak ngerteh harus nyangkruk di mana, gue pengen ngakan hongkong tapi uang lagi menipis. Kira kira elu mau nggak ngakan hongkong sambil cangkruk di warung nang Cak Ri?”

Translator

tak ngerteh = tidak mengerti

ngakan hongkong = makan gorengan (dalam bahasa jawa disebut ote ote, heci)

Pada awalnya saya kira dia memang belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Namun semakin lama saya mengenal dia saya rasa kok omongannya malah ngelantur. Dalam batin saya, ini pasti digawe gawe sama Dowan. Pada akhirnya saya bertanya ke dia mengapa kok kalo ngomong pake bahasa yang gado gado alias tahu campur.

“Wan, opo’o se awakmu nek ngomong kok bahasane campur campur gak jelas ngunu, kadang boso meduro, kadang boso jowo, kadang boso Indonesia, malah kadang kadang digabungno dadi siji ngunu?”

“Wkwk, dek remah be’en cong, kok kamu bingung begitu sih. Aku cuman latihan dadi manusia bilingual bro. Dadine engko’ belajar beberapa bahasa dan nek ngomong mesti tak campur campur. Iku isok dadi bukti nek Aku iku bangga dengan Bahasa Indonesia dan juga Bahasa daerah serta dialek seng pernah tak pelajari.”

Translator 

“Wan, kenapa kamu kalo ngomong bahasanya campur campur nggak jelas gitu, kadang bahasa madura, kadang bahasa jawa, kadang bahasa Indonesia, bahkan kadang kadang digabungkan jadi satu begitu?”

 “Wkwk, kenapa kamu, kok kamu bingung begitu sih. Aku cuman latihan dadi manusia bilingual bro. Dadine aku belajar beberapa bahasa dan nek ngomong mesti tak campur campur. Iku isok dadi bukti nek Aku iku bangga dengan Bahasa Indonesia dan juga Bahasa daerah serta dialek seng pernah tak pelajari.”

Mendengar jawaban yang seperti itu, saya akhirnya mengetahui bahwa teman saya ini sudah nggak waras, saya sampek misuh misuh mendengar jawaban yang seperti itu. Bahkan kadang kadang akhirnya membuat saya memanggil dia dengan sebutan yang khas, yaitu “arek autis“.

Saya benar benar nggak paham dengan pikiran teman saya itu. Tapi meskipun begitu, saya juga menaruh kebanggaan kepada Dowan karena sudah bangga dengan bahasa Indonesia dan akar dari bahasa Indonesia yaitu bahasa daerah. Meskipun cara yang dilakukannya cukup konyol dan mungkin nggak bisa diterima dengan akal sehat.

Memang susah bila mempunyai teman yang seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, Tuhan memang menciptakan manusia dengan karakter yang berbeda beda agar kehidupan ini menjadi berwarna dan tidak membosankan.
Saya yakin Anda akan memiliki ketidakpercayaan dengan cetita saya tersebut. Tetapi saya maklum kok kepada para sahabat, karena saya juga tidak percaya kalau saya mempunyai teman yang koplo seperti itu. Sudah nek ngomong ngelantur, bahasanya pating mecothot, gayanya juga tetep stylish. Ini nih profil teman saya yang mekitik itu.

Fb nya Dowand

Incoming search terms:

  • dekremah artinya
  • apa artinya bahasa jawa tek mu tek mu tek
  • Oke Google yang ngomong tadi cantik siapa sih
  • mudeng bahasa madura
  • kata lucu yang campur bahasa madura dan indonesia
  • cerita lucu jawa
  • boso meduro
  • bahasa madura mudeng artinya
  • bahasa indonesia ngunu
  • bahasa indonesia megeli