Ketika Orang Tua Telah Tiada

Selamat beraktivitas para blogger sekalian,

Semua orang pasti pernah mengalami masa masa bahagia. Momen tersebut pasti menjadi momen yang diingat sepanjang masa. Namun bagi beberapa orang, momen yang akan selalu terkenang adalah ketika kita mengalami peristiwa yang tragis, baik itu peristiwa pada diri sendiri ataupun pada orang terdekat kita (keluarga).
Di sini saya akan menceritakan peristiwa yang menginspirasi saya untuk belajar hidup mandiri. Dimana hal itu terjadi kepada sahabat saya dalam organisasi pencinta alam. Ini nih ceritanya, monggo disimak ^^

Winastanto Wibowo, dialah sosok orang yang benar benar menginspirasi dalam hidup saya. Dia adalah seseorang yang sederhana, namun dalam kesederhanaannya terdapat berbagai makna kehidupan yang bermakna bagi saya yang merupakan adik tingkatnya dalam organisasi pencinta alam. Dalam organisasi dia dipanggil dengan nama lapang “Kebo” karena kalo sudah tidur, persis koyok kebo, hahaha

Sebelum saya mengenal dekat mas Kebo, dia adalah sosok orang yang megeli, kata katanya pedes dan juga orang yang sak karepe dewe.  Namun setelah saya mengenalnya, ternyata banyak sisi baik darinya, diantaranya adalah bahwa dia adalah seseorang pekerja keras dan juga pandai menempatkan posisi dimana saja dia berada.

Namun di balik semua kelebihannya itu, ada satu peristiwa yang pastinya tidak diharapkan oleh semua orang ketika masih berada di masa muda. Tetapi Tuhan berkehendak lain dengan takdir pada kehidupan mas Kebo. Cobaan besar datang menghampiri mas Kebo pada waktu yang tidak disangka sangka. Bagaimana bisa disangka, orang yang benar benar disayangi mas Kebo telah menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya di Lamongan. Sesosok ibu yang telah mengandungnya selama 9 bulan dan juga telah memberikan kasih sayang yang tidak ternilai meninggalkan mas Kebo dan keluarga lainnya.

Setetes air mata yang tidak pernah saya lihat pada mata mas Kebo mulai menetes tanpa henti. Suara tangisan yang menderu deru pun mulai menjadi teriakan yang membabi buta. Kondisi waktu itu seakan akan membuat mas Kebo tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kondisi tubuhnya lunglai lemas ketika berita itu sudah sampai di telinganya. Dan yang kami lakukan sebagai saudara hanya bisa memberikan motivasi dan dukungan agar mas Kebo tetap bisa tersenyum dan sumringah dalam menjalani hari hari berikutnya.

Dalam waktu lama mas Kebo terdiam dan terpaku dengan apa yang menimpanya. Banyak hal yang saya dan teman teman lakukan untuk memotivasi mas Kebo, tetapi belum menunjukkan hasilnya. Sehingga akhirnya kami pun mencoba memahami kondisi mas Kebo yang masih terpukul oleh peristiwa tersebut. 

Meskipun mas Kebo terdiam dalam waktu lama, akhirnya kami menemukan juga senyum lebar dari mas Kebo. Tidak disangka dia sudah bisa mengerti dan memahami apa yang terjadi pada kehidupannya. Dan akhirnya kata yang kami tunggu pun diucapkan, “Rek, ayok ngopi!“. Tanpa pikir panjang, kami pun bergegas mengiyakan ajakan mas Kebo seperti biasanya tanpa pikir panjang, “Budhal cak“.

Namun keceriaan itu tidak berselang lama, setelah sekitar 5 bulan kematian ibunda mas Kebo. Kami mendapatkan berita yang kurang menggembirakan lagi, Ayahanda mas Kebo meninggal dunia. Berita ini benar benar membuat kami tidak percaya, “Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang berat buat mas Kebo“. 

Air mata mas Kebo menetes lagi. Tentu disertai isakan yang menandakan bahwa kesedihan yang mendalam ada pada diri mas saya yang selalu sumringah itu. Senyumnya yang ngakak sudah tidak ada lagi. Sepertinya habis sudah harapan baginya untuk melanjutkan perkuliahan. Bukan karena finansial, tapi karena peristiwa yang mengagetkan tersebut. Akhirnya mas Kebo pun melarikan diri dari kami untuk mencari ketenangan.

***

Setelah sekitar 1 bulan mas Kebo mengasingkan diri, ternyata kami melihat pemandangan yang berbeda. Senyum dan canda tawanya sudah muncul kembali. Sepertinya peristiwa tragis yang menimpanya benar benar telah terlupakan olehnya. Kami pun hanya tercengang dengan perubahan sikapnya itu. Namun kami menganggap hal itu adalah wajar karena mas Kebo memanglah seseorang yang pandai beradaptasi.

Setelah kematian orang tuanya, ternyata mas Kebo lebih memiliki semangat dalam berkuliah. Nilainya berangsur angsur naik meskipun dia berkuliah sambil bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Pekerjaan seperti guru les privat anak SMP, tukang servis HP, penjaga rental VCD dan bahkan sebagai penjual pulsa pun telah dia rasakan demi kelangsungan hidupnya. Kehidupannya benar benar mandiri, lebih tertata dan bahkan menjadi lebih bernilai semenjak ditinggal kedua orang tuanya.

 Kehidupannya pun berangsur angsur membaik hingga akhirnya mas Kebo telah menyelesaikan studi S1 nya dan mendapatkan gelar Sarjana Farmasi. Setelah sarjana pun dia tetap bekerja part time pada event organizer yang ada di Surabaya untuk biaya kuliah profesinya. Dengan pekerjaan paruh waktunya itu dia membiayai kuliahnya dan berhasil mendapatkan gelar Apoteker di Unair. Setelah itu dia mendapatkan pekerjaan di PT. Kimia Farma Tbk. sebagai Manager Apotek Kimia Farma di Kabupaten Bima. Dan sekarang mas Kebo telah berpindah tempat kerja di Kalimantan Timur (lengkapnya saya kurang tahu).

Kisah nyata di atas benar benar telah menginspirasi saya selama ini. Ternyata perkataan Allah dalam Surat Al ‘usr itu memang benar adanya yaitu “Di balik kesulitan pasti ada kemudahan“.

Semoga kita bisa menjadi seseorang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Karena rasa manis akan lebih terasa manis ketika setelah merasakan yang pahit.
Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway
Artikel ini saya dedikasikan sebagai rasa kangen saya pada mas Kebo ^^