Selamat Jalan Daru

Malam hari kemarin adalah malam yang sangat mengharukan bagi saya. Saya benar benar tidak kuasa menahan air mata yang menetes. Ada kabar yang kurang enak yang saya dengar dari sahabat saya ketika masih menjadi seorang Pramuka di SMA Negeri 3 Jombang. Teman saya yang bernama Lala mengabari dengan isakan tangis yang jarang sekali saya mengetahuinya.

“Mam, Daru sedho, arek’e maeng kecelakaan nang Denanyar”

artinya ” Mam, Daru meninggal dunia, anaknya tadi kecelakaan di Denanyar”

Seketika itu saya kaget, terperanjak lesu di pojok kamar saya. Dan tanpa saya sadari, air mata telah menetes di pipi saya karena kepergian saudara adik tingkat saya di Pramuka waktu SMA dulu. Banyak kenangan indah yang pernah kita jalani bersama, Lomba pramuka, camping, jalan jalan, belanja bareng, rujak’an bahkan yang lebih asyik adalah mancing bareng.

Saya sangat mengenal sosok si Daru Gumilar A., anaknya pendium, misterius, jarang tertawa dan juga susah banget diajak bercanda. Namun dibalik itu semua, kepribadiaannya yang taat beragama dan juga rajin bekerja menjadi nilai plus dalam kehidupannya.

Sebelum saya meninggalkan Jombang dan bertolak untuk kuiah ke Jember, ada beberapa kata yang selalu teringat dari lisan si Daru

” Mas imam, aku asline yo pengen kuliah mas koyok sampeyan. Tapi sampeyan lak yo ngerti kondisine keluargaku koyok opo mas, kabeh kabeh angel, duwit yo pas pasan mas. Kiro kiro menurute sampeyan aku enak’e kuliah ta gak mas?”

artinya : ” Mas imam, aku sebenarnya juga pingin kuliah seperti kamu. Tapi kamu kan sudah mengerti kondisi keluargaku seperti apa, semuanya serba sulit, uang juga pas pasan. Kira kira aku kuliah atau nggak mas enaknya?”

Apabila mengingat kaa kata itu, saya rasanya tidak percaya kalau seseorang yang sudah saya anggap seperti adek saya sendiri sudah meninggalkan saya dan keluarga besar Pramuka SMA Negeri 3 Jombang (Prasmaga).

Pada waktu itu saya hanya bisa memberi semangat dan suntkan motivasi saja. Saya hanya bisa bilang bahwa lebih baik kamu kuliah saja. Masalah uang kan bisa mencari beasiswa. Terus kalau masalah uang makan kan bisa sambil jalan dan sambil mencari kerja part time.

Ternyata tanpa saya tahu kabar selanjutnya, si Daru sudah kuliah di Jakarta, di dekat rumah saudara saudara dari bapaknya. Dan ketika saya konfirmasi, ternyata benar dan dia dibiayai oleh pakleknya itu untuk biaya masuk, sedangkan biaya sehari hari dia cari sendiri. Yang saya tahu, pada waktu itu dia berjualan es krim untuk memenuhi kehidupannya.

Namun hal itu hanya berkembang selama satu tahun, setelah itu dia dikeluarkan dari kampusnya karena ada banyak tunggakan. Info ini pun saya tahu ketika dia sudah ada di Jombang dari Daru sendiri. Saya bingung mau bilang apa, dan akhirnya yang keluar dari mulut saya hanya saya menawarkan beberapa kerjaan untuknya yang tentu saja juga berasal dari kawan kawan yang lain.

Tidak lama berselang, si Daru sudah mengeposkan berita di facebook kalau dia jualan kaos secara online dan juga jualan kaos di dekat rumahnya di daerah Gudo, Jombang. Setelah melihat perkembangan usahanya, saya merasa bahagia karena dia sudah bisa membuat uang sendiri untu kebutuhannya.

Namun, kebahagiaannya tidak sejalan dengan takdir Allah. Allah berkehendak lain, Allah memulangkan Daru lebih dahulu untuk bertemu dengannya. Dan saya pun tidak bisa apa apa, saya hanya bisa menyerahkan dengan ikhlas saudara saya kepada keagungan Allah Penguasa Semesta Alam.

Selamat Jalan Daru
Semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah SWT
Semoga semua tindakanmu yang kurang berkenan diampuni oleh Allah SWT
Kami semua sudah ikhlas untukmu
Semoga Engkau bahagia di sisi-Nya
Suatu saat kami semua juga pasti akan menyusulmu menuju keharibaan Allah SWT

Kami semua pasti merindukan senyuman manis mu Daru
Semoga Jalan Terang Selalu Ada Untukmu