Jono dan Tini

Di sebuah asrama tentara di pinggiran Kota Surabaya saat itu sedang ramai. Sekumpulan anggota tamtama baru sedang menonton televisi di aula tengah asrama. Maklum, hari itu hari libur, jadi semua anggota tamtama bebas melakukan aktivitas apa saja selama satu hari penuh.
Tiba tiba, Kapten mereka pun datang. “Jono, tadi pagi kamu tidak membersihkan kamar mandi. Padahal hari ini piket kamu. Sebagai hukuman, hari ini kamu akan saya tugaskan membersihkan kamar mandi di rumah saya.”  Dengan segera Jono menuju rumah Kapten Bhirawa, Kapten yang terkenal paling galak di asrama tersebut.
Sesampainya di rumah kapten, si Jono celingak celinguk di depan rumah. Ternyata  di rumah kapten ada Tini, anak perempuan kapten yang baru pulang dari kuliah di Jogjakarta. Melihat anak perempuan kaptennya, si Jono merasa kagum dengan anak kaptennya. “Duh, cantiknya anak kapten, ckckck. Tidak rugi saya mendapat hukuman disini. Karena di sini saya justru bertemu bidadari yang baru turun dari surga”. Setelah menikmati kecantikan wajah Tini, Jono langsung menuju kamar mandi kapten untuk membersihkannya.
Setelah sekitar 1 jam membersihkan kamar mandi, Jono pun istirahat. Setelah itu, datang segelas teh dan beberapa pisang goreng dari Tini. Sambil beristirahat, Jono pun berbincang bincang dengan Tini. Banyak hal yang dibicarakan, hingga mereka pun sudah mengenal satu sama lain, termasuk kondisi Tini yang belum memiliki kekasih. Dan tiba tiba, Kapten Bhirawa datang, “Lho lho lho, berani beraninya dekat dengan anak saya”. (sambil menggulung gulung kumis). Seperti gelegeran petir, si Jono pun langsung lari dari rumah kaptennya sambil berteriak, “Tini, tunggu surat cinta cariku ya, surat cintaku pasti akan sampai di tempatmu di Jogja”. Mendengar teriakan itu, Kapten Bhirawa hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum kecut melihat kelakuan anak buahnya. “Dasar Jono, murid paling edan se asrama”. 
Cerita  ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest:Senandung Cinta