Subsisi BBM Adalah Budaya Yang Tidak Mendidik

Selamat beraktivitas para sahabat Noteboll sekalian,

Beberapa hari ini, polemik sedang terjadi negeri kita yang indah ini. Polemik tersebut sebenarnya cukup sederhana. Namun memiliki banyak makna di benak kita semua. Karena setiap orang memiliki tingkat kebutuhan yang tinggi pada hal tersebut, baik orang di desa ataupun masyarakat eksklusif di perkotaan.
Polemik tersebut adalah mengenai Kenaikan Harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang cukup signifikan. Polemik ini sebenarnya adalah sebuah imbas, dari sebuah sistem yang ada di negeri ini. Dimana pemberian subsidi alias dana negara sudah menjadi kebiasaan. Jadi kondisi itu menyebabkan hampir semua warga negara beranggapan bahwa tanpa pemberian subsidi, berarti pemerintah tidak berusaha mensejahterakan warganya.

Menurut pandangan saya, energi adalah sesuatu yang sangat berharga. Hal tersebut dikarenakan bahwa energi itu Tidak bisa diciptakan maupun dimusnahkan, hanya saja energi itu dapat diubah dari satu energi ke energi yang lain. Padahal kita tahu sendiri, energi yang berasal dari BBM adalah energi yang terbatas jumlahnya dan memerlukan waktu jutaan tahun untuk memproduksinya. Jadi secara logis pun kita harus bisa melakukan penghematan dari penggunaan BBM.

Hal yang berbeda justru diperlihatkan masyarakat Indonesia mengenai penghematan. Hampir setiap keluarga di perkotaan memborong sepeda motor dan mobil dan mulai menghindari penggunakan transportasi umum. Hal ini jelas justru meningkatkan konsumsi BBM dan akhirnya jtaha BBM untuk negeri ini pun membengkak penggunaannya. Artinya adalah selain jumlahnya yang membengkak, subsidi yang diberikan pun jelas membengkak. Hingga akhirnya neraca keuangan negara menjadi tidak stabil.
Saya sebenarnya bukan tidak setuju BBM naik. Saya justru sangat setuju, karena saya rasa penggunaan BBM paling banyak justru di masyarakat kota, bukan di masyarakat lokal pedesaan. Jadi alangkah lebih baik jika BBM dinaikkan, lebih setuju lagi jika subsidi BBM dihapuskan kemudian dipergantikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan kesehatan, pelayanan transportasi, pelayanan pendidikan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah pendidikan dan pemberiaan biaya untuk kewirausahaan kepada masyarakat lokal di pedesaan.
Tapi anehnya, pemerintah justru memberikan Balsem alias BLSM yang justru membodohi masyarakat dengan memberi uang tunai secara cuma cuma. Saya rasa itu justru semakin menumbuhkan jiwa jiwa pengemis di negeri ini. Bukan malah meningkatkan kesejahteraan, tapi justru kemunduran mental yang akan didapatkan. Hal tersebut akan lebih tepat penggunaannya jika digunakan untuk kewirausahaan masyarakat. Jadi siapa yang mau usaha, nanti akan diberikan pelatihan dan permodalan yang cukup. Namun hal tersebut juga dilengkapi dengan evaluasi dari pemerintah daerah masing masing.
Budaya menerima subsidi memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Dan sekarang pemerintah akan sangat susah untuk menarik subsidi tersebut, karena sudah terlanjur dibiasakan. Bayangkan bila kita biasanya makan nasi, tapi justru tidak diberi nasi, pasti tidak enak. Begitulah kira kira jika sudah biasa disubsidi, maka ketika subsidi dihilangkan pasti tidak.
Oleh karena itu, mari kita bersama sama mencoba lebih bijak dalam menggunakan BBM yang sangat terbatas jumlahnya. Dalam hal lain pun kita harus bisa meningkatkan jiwa jiwa swasembada pada diri kita masing masing. Kita harus percaya, bahwa kita pasti bisa melakukan perubahan yang berarti tanpa subsidi BBM. Subsidi BBM lebih baik untuk tunjangan yang lain, misalnya kesehatan, pendidikan, transportasi massal, serta pembukaan lapangan kerja dan pendidikan berwirausaha.
Terima kasih dan semoga bermanfaat.